Ajahn Brahm memutar-balik Empat Kebenaran Mulia?

topik-topik lain, yg masih berkaitan dengan meditasi, kesadaran, pikiran, aku/diri, dan penderitaan manusia (secara sosial atau global).

Ajahn Brahm memutar-balik Empat Kebenaran Mulia?

Postby Hudoyo Hupudio » Fri May 21, 2010 5:28 pm

Ajahn Brahm.jpg

Dari: buku Ajahn Brahm, "Superpower Mindfulness", hal. 305 dst:

"KEBAHAGIAAN TERTINGGI

Buddha bersabda, "Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi" (Dhp 203-4). Ini barangkali gambaran pencerahan yang paling membantu. Bukan hanya karena terus terang dan tidak banyak celoteh, tetapi juga sangat menarik. Ini juga mengungkapkan mengapa para pria dan perempuan telah berjuang keras demi NIbbana sepanjang dua puluh enam abad silam. Kita semua menginginkan kebahagiaan, dan jika kebahagiaan tertinggi yang ditawarkan, maka itulah yang kita maui. Jadi ajaran yang tak lekang waktu dari Buddhisme adalah bagaimana untuk menjadi lebih bahagia dan lebih bahagia lagi, sampai kita meraih puncak dari segala kebahagiaan dalam hidup ini juga: NIbbana.

Dewasa ini, saya menyampaikan ajaran istimewa Buddha mengenai Empat Kebenaran Mulia yang telah saya susun ulang. Saya dapati bahwa jika saya memulai dengan kebenaran mulia tentang penderitaan, maka para pemirsa saya menjadi luruh semangat. Mereka sudah cukup tahu mengenai hal tersebut dalam kehidupan mereka. Mereka tidak mau meluangkan sore hari mereka untuk datang dan lagi-lagi mendengarkan tentang penderitaan. Seperti yang diketahui oleh setiap penjual, kesan pertama adalah segalanya. Maka dari itu saya memperkenalkan Empat Kebenaran Mulia sebagai berikut:

1. Kebahagiaan
2. Jalan menuju kebahagiaan
3. Ketidakbahagiaan
4. Penyebab ketidakbahagiaan

Hal ini pada hakikatnya sama seperti yang diajarkan oleh Buddha, tetapi diurutkan kembali untuk memberikan dampak yang lebih besar. Sebagian orang mungkin menyebut pengaturan kembali ini sebagai "pemasaran", tetapi hal ini menekankan tujuan Buddhisme dengan menempatkannya di urutan pertama."

*****
Bagaimana komen Anda?
You do not have the required permissions to view the files attached to this post.
User avatar
Hudoyo Hupudio
 
Posts: 1284
Joined: Fri May 07, 2010 10:26 pm
Location: Jakarta, Indonesia

Re: Ajahn Brahm memutar-balik Empat Kebenaran Mulia?

Postby Hudoyo Hupudio » Sun May 23, 2010 9:36 am

[Email dari: LIE ZEPHYRUS <lie_zephyrus@yahoo.co.id>]

Bagaimana pun sosok seorang ajahn brahm, apapun yang diajarkan oleh dia.Yang harus kita lakukan sebenarnya adalah membuktikan hal tersebut. Ehipassiko. Ini sama seperti guru yang mengomentari muridnya yang memakai cara lain selain cara yang diajarkan olehnya. soal yang sama dapat diselesaikan dengan banyak cara. Nah, yang harus anda lakukan sebelum meng-klaim cara tersebut salah atau benar, adalah dengan mengujinya sendiri. Jika jawaban yang anda dapat benar maka cara itu benar, demikian juga sebaliknya. Tidak perlu menyalahkan ajahn brahm karena belum tentu anda yang benar, serta juga tidak perlu membela ajahn brahm karena juga belum tentu anda yang salah. Namun, jika setelah dilakukan dan dipraktekan ajaran ini membawa kebahagiaan dan kebaikkan maka hendaknya dilanjutkan dan demikian pula sebaliknya. Amatlah mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sangatlah sulit melihat kesalahan diri sendiri. Seseorang dapat menunjukkan kesalahan orang lain seperti menampi dedak, tetapi ia menyembunyikan kesalahannya sendiri seperti pejudi licik menyembunyikan dadu berangka buruk. Barang siapa yang selalu mencari-cari kesalahan orang lain, maka kekotoran batin dalam dirinya akan bertambah dan ia semakin jauh dari penghancuran kekotoran batin (Dp. 252-253)

Semoga bermanfaat
With metta,


HUDOYO HUPUDIO:

Rekan Lie Zephyrus,

Yang saya tanggapi bukan ajaran Ajahn Brahm secara keseluruhan, terutama ajarannya tentang jhana, melainkan hanya pemutarbalikannya terhadap ajaran Buddha, Empat Kebenaran Mulia. Di situ sangat jelas, bahwa ia telah menyimpang dari ajaran Buddha! Menurut pengalaman saya, dan menurut pengalaman para pemeditasi vipassana, kalau orang mencari kebahagiaan "tertinggi", maka meditasinya akan macet, karena ia tidak menyadari si aku/atta yang berada di balik pencariannya itu. Oleh karena itu, sungguh tepat Sang Buddha mengajarkan dukkha dan lenyapnya dukkha, yang berarti orang harus mengamati gerak-gerik si aku/pikiran ini yang merupakan sumber dari dukkha itu.

Jadi "nasehat" Anda telah saya terapkan jauh sebelum Anda mengenal & "menasehati" saya. Pada dasarnya Anda cuma ingin menyanggah saya; dan itu adalah hak Anda. Tapi Anda telah melampaui hak Anda --sebagaimana dilakukan oleh banyak umat Buddha yang merasa benar untuk berdebat dengan saya-- yakni Anda telah menasehati saya seolah-olah Anda mempunyai moralitas yang lebih benar daripada moralitas saya dan berhak menasehati saya. Itu yang paling memuakkan dalam debat saya dengan orang-orang Buddhis selama ini, termasuk dengan Anda. Saya sendiri tidak pernah menasehati orang-orang Buddhis betapa pun pendapat mereka berbeda dengan pendapat saya. Apalagi kelakuan Anda dengan menyodorkan ayat-ayat Dhammapada kepada saya, dalam rangka "menasehati" saya, seolah-olah Anda seorang pemuka Buddhis yang berkhotbah di hadapan umat awam. Ingat, kita sedang berdebat tentang ajaran Ajahn Brahm; saya tidak mempermasalahkan kondisi batin Anda, dan Anda sama sekali tidak berhak mempermasalahkan kondisi batin saya dan "menasehati" saya. Perbuatan Anda itu sudah termasuk serangan terhadap pribadi (ad hominem) --sekalipun dikemas dengan halus-- yang tidak pada tempatnya dalam sebuah debat yang beradab, dan yang sangat memuakkan dalam banyak perdebatan di milis-milis Buddhis.

Semoga bermanfaat,
With metta,
Hudoyo Hupudio

============================================================================================

--- In Dharmajala@yahoogroups.com, "Hudoyo Hupudio" <hudoyo@...> wrote:

Dari: LIMCUNSIEN [aujadi@...]

Maaf, saya ingin membagi apa yang saya ketahui dari seorang pribadi Ajahn Brahm. Saya sudah membaca buku buku beliau dan juga mendengarkan ratusan ceramah beliau yang saya download lewat internet, dan juga mempraktekkan meditasi yang beliau ajarkan lewat buku beliau.. saya ingin berkomentar:

- Tentang 4 kesunyataan mulia.. beliau memberikan urutan itu bukan untuk merevisi ajaran Sang Buddha, tetapi untuk memberikan pengertian yang lebih sesuai dengan jalan pikiran orang orang sekarang. Kata kata Sang Buddha tidak lekang aoleh waktu, tetapi manusia kan mengalami pergeseran bahasa, sehingga kata yang sama pada masa lampau bisa diartikan berbeda pada masa sekarang. Beliau menyatakan kebahagiaan adalah tujuan karena Sang Buddha sendiri menyatakan Nibbana adalah Kebahagiaan Tertinggi (Baca Ovada Pattimokkha). Jalan menuju lenyapnya dukkha adalah jalan menuju ke nibbana ( yaitu Kebahagiaan tertinggi). Jalan menuju lenyapnya dukkha adalah 8 jalan utama. Kita membaca sendiri dari sutta sutta bahwa para Bhikkhu pada zaman Sang Buddha juga berusaha membabarkan dhamma dengan berbagai cara agar pendengarnya bisa mengerti apa yang dimaksudkan dan ini juga disetujui Sang Buddha.. Jadi cara Ajahn Brahm membabarkan 4 kesunyataan mulia ini adalah demi pemahaman pendengarnya terutama yang masih awam, bagi yang sudah mengerti beliau memulai dengan urutan apa yang disebut dalam sutta.

- Pribadi Ajahn Brahm dalam hemat saya adalah seorang yang luar biasa.Pernahkah anda2 melihat Bhikkhu yang kemana mana hanya membawa satu tas tangan dan mangkuk patta? Beliau adalah Bhikkhu 'berkaliber' internasional, tidak membawa bagasi kemana mana... pernah kejadian ketika beliau hendak berangkat keluar negeri, pesawat di delay 24 jam, apa jadinya? Ajahn Brahm hanya berada di sekitar bandara tanpa meminta dayaka atau siapapun untuk mengantarkan beliau istirahat di hotel atau pulang ke vihara, tetapi beliau istirahat di bandara karena beliau tidak punya Hand Phone atau pun credit card... saya curiga beliau juga tidak makan... dapatkah anda menaruh 'respect' pada Bhikkhu semacam begitu?

-Ketika beliau di Indo beberapa tahun yang lalu seorang umat hendak mendanakan amplop berisi uang, beliau bertanya apa isi amplop itu? Jawabannya : uang untuk dana ke pribadi beliau.. beliau menolaknya.. Ini sesuai dengan Vinaya bukan?

-Ketika ada masalah di vihara di Aussie, ada komplain bahwa WC bau, lantai kotor dan terjadi perselisihan... Beliau dalam ceramahnya menyatakan " Saya lebih suka lantai kotor, WC bau daripada perselisihan dalam vihara.... pernyataan ini sungguh sesuai dhamma, dengan demikian perdamaian lebih mudah tercipta.

-Dalam satu ceramah beliau, beliau menyatakan Gossip adalah hal yang patut dihindari. Beliau bahkan meminta umat yang mendengarkan untuk jangan membanding-bandingkan viharanya dengan vihara 'sebelah', Buddhisme dengan 'agama sebelah', dirinya dengan Bhikkhu yang lainnya... agar perdamaian tercipta, umat Buddha mestinya lebih melihat kedalam diri daripada keluar dan mempraktekkan loving kindness... Bukankah ini sesuai dengan dhamma?

-Dalam satu ceramah beliau tentang meditasi, seorang umat menanyakan pencapaian beliau. Beliau langsung mengulang isi dari Vinaya yang menyatakan seorang Bhikkhu tidak boleh memberitahukan pencapaian nya depan umat awam...

-di vihara beliau, Bhikkhu2 dari sekte lain (mahayana or tantrayana ) pernah memberikan dhammatalk bahkan bimbingan meditasi... ini menunjukkan kebesaran jiwa seorang Ajahn Brahm untuk menerima perbedaan dan menganjurkan umatnya untuk jangan hanya mendengar apa kata beliau dan find out for themselves apakah kebenaran yang diceramahkan oleh berbagai Guru.

-Gaya beliau yang selalu memberikan jokes karena beliau ingin memunculkan kebahagiaan bagi umat dan orang yang berada di sekitarnya.. dalam pendangan beliau dengan perasaan bahagia, seseorang akan lebih cepat menyerap apa yang akan disampaikan, dalam hemat saya beliau menteladani Guru Kita Sang Buddha yang membabarkan dhamma setelah batin seseorang siap.

-Dalam banyak ceramah beliau menganjurkan kita jangan memelihara "FAULT FINDING MIND" karena itu akan menghambat perkembangan batin kita dan juga menciptakan perpecahan.

- Masih banyak hal hal positif dalam diri Ajahn Brahm yang patut menjadi teladan bagi kita semua.. Saya menganjurkan anda anda untuk mendengar sendiri ceramah ceramah beliau yang dapat di download langsung dari http://www.bswa.org agar dapat menikmati dhamma yang beliau babarkan dan
membuktikan apa yang saya sampaikan di atas. Bukan merupakan hal yang sederhana beliau sampai bisa terkenal di seluruh dunia. Beliau memiliki kualitas batin sebagai seorang yang patut diteladani.

Demikian komentar dari saya, semoga membawa kebaikan dan perenungan bagi kita semua..

Mettacittena,
Aujadi


HUDOYO HUPUDIO:

Rekan Limcunsien, terima kasih atas tanggapan Anda terhadap posting saya.

Saya tidak mempermasalahkan kehidupan pribadi Ajahn Brahm sebagai bhikkhu. Bila yang Anda ceritakan itu benar, tentu beliau adalah seorang bhikkhu yang patut diteladani dalam hal ketaatan kepada Vinaya.

Yang saya kritisi adalah Dhamma yang diajarkan oleh Ajahn Brahm. Karena Anda sudah mendengarkan ratusan ceramah beliau, maka pemahaman Dhamma Andalah yang saya pakai contoh bagaimana dampak ajaran Ajahn Brahm terhadap pendengarnya.

Tapi sebelumnya, lebih dulu saya ingin mengomentari pernyataan Anda:

<<...bukan untuk merevisi ajaran Sang Buddha, tetapi untuk memberikan pengertian yang lebih sesuai dengan jalan pikiran orang orang sekarang. Kata kata Sang Buddha tidak lekang oleh waktu, tetapi manusia kan mengalami pergeseran bahasa, sehingga kata yang sama pada masa lampau bisa diartikan berbeda pada masa sekarang.>>
O, begitu? Jadi menurut Anda rumusan Empat Kebenaran Mulia dari Buddha 2500 tahun lalu sekarang ini perlu diubah karena "manusia kan mengalami pergeseran bahasa, sehingga kata yang sama pada masa lampau bisa diartikan berbeda pada masa sekarang"? Sebagaimana dilakukan oleh Ajahn Brahm?

Kalau jalan pikiran Anda diikuti secara konsekuen, apakah rumusan Empat Kebenaran Mulia dalam buku-buku agama Buddha pada abad ke-21 ini perlu disesuaikan dengan apa yang diajarkan oleh Ajahn Brahm "untuk memberikan pengertian yang lebih sesuai dengan jalan pikiran orang orang sekarang"?

Hebat sekali, kalau begitu. Jadi nanti di dunia ini ada dua versi Empat Kebenaran Mulia: yang satu bisa disebut ajaran Buddhisme, dan yang lain bisa disebut ajaran Brahmavamsoisme.


<< Jadi cara Ajahn Brahm membabarkan 4 kesunyataan mulia ini adalah demi pemahaman pendengarnya terutama yang masih awam, bagi yang sudah mengerti beliau memulai dengan urutan apa yang disebut dalam sutta. >>
Jadi buku-buku Buddha Dhamma untuk orang yang masih "awam" (menurut Anda)--termasuk buku-buku untuk sekolah minggu dsb--perlu diisi dengan "Empat Kebenaran Mulia" versi Ajahn Brahm? Lalu, pada titik mana "orang yang masih awam" itu dianggap "sudah mengerti", sehingga dianggap pantas diberi Empat Kebenaran Mulia dari Buddha? Seperti apa "mengertinya" itu?

Menurut hemat saya, mengajarkan Nibbana sebagai "Kebahagiaan Tertinggi" tanpa berangkat dari Dukkha sebagai hakikat eksistensi ini adalah pengajaran Dhamma yang tidak bertanggung jawab, maaf saja.

Apalagi kalau kita baca bagaimana pendekatan Ajahn Brahm terhadap Nibbana: "Kita semua menginginkan kebahagiaan, dan jika kebahagiaan tertinggi yang ditawarkan, maka itulah yang kita maui. Jadi ajaran yang tak lekang waktu dari Buddhisme adalah bagaimana untuk menjadi lebih bahagia dan lebih bahagia lagi, sampai kita meraih puncak dari segala kebahagiaan dalam hidup ini juga: Nibbana." (Superpower Mindfulness, hlm 306)

Maaf saja, saya tidak menganut "Buddhisme" ajaran Ajahn Brahm seperti ini.

Dalam Anguttara Nikaaya IX,iv,3, terdapat percakapan pendek antara YM Saariputta dan YM Udaayi yang berkaitan dengan apa maksud Buddha ketika mengatakan "Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi". Perakapan ini SANGAT PENTING dipelajari oleh umat Buddha yang mengira bahwa Nibbana adalah kebahagiaan atau kenikmatan tertinggi yang bisa dialami dengan 'vedana' (perasaan):

"YM Saariputta berkata, 'Nibbana adalah kebahagiaan, para Sahabat, nibbana adalah kebahagiaan.' Setelah ini dikatakan, YM Udaayi bertanya kepada YM Saariputta, 'Tapi, apakah kebahagiaan itu, Sahabat Saariputta, karena di sini tidak ada apa-apa lagi yang terasa (n'atthi vedayitan'ti)?' - 'Justru itulah bahagia, Sahabat, ketika tidak ada apa-apa lagi yang dirasakan.' [jawab YM Saariputta]."

Hanya seorang pemeditasi vipassana--bukan pemeditasi jhana--bisa memahami apa yang dimaksud oleh YM Saariputta ketika ia berkata, "Justru itulah kebahagiaan ketika tidak ada apa-apa lagi yang dirasakan."

<< Kita membaca sendiri dari sutta sutta bahwa para Bhikkhu pada zaman Sang Buddha juga berusaha membabarkan dhamma dengan berbagai cara agar pendengarnya bisa mengerti apa yang dimaksudkan dan ini juga disetujui Sang Buddha.. >>
Tetapi jelas Buddha tidak akan pernah menyetujui bila ada bhikkhu yang mengutik-ngutik Empat Kebenaran Mulai yang diajarkannya. ... Dan preseden seperti itu belum pernah saya lihat dilakukan oleh seorang bhikkhu mana pun sepanjang sejarah selama 2500 tahun terakhir ini--bahkan Buddhaghosa pun tidak--kecuali sekarang!

***

Rekan Limcunsien, Anda lupa menampilkan salah satu kehebatan Ajahn Brahm: beliau adalah seorang bhikkhu pemeditasi yang telah mencapai jhana! (entah sampai jhana keberapa) - Itu tidak saya ingkari, Ajahn Brahm adalah meditator yang telah mencapai jhana. Berdasarkan pengalaman pribadi--bahwa jhana memberikan kebahagiaan luar biasa--itulah beliau mengajarkan agar para meditator mencapai jhana. (Ini terlepas dari teori bahwa 'kebahagiaan' (sukha) dalam jhana itu LENYAP mulai jhana keempat dan seterusnya!)

Lalu, melangkah lebih jauh dari itu, beliau mengklaim bahwa jhana mutlak perlu untuk mencapai pembebasan. Jelas klaim seperti itu bukan berasal pengalaman pribadi Ajahn Brahm! Bagaimana mungkin beliau bisa mengklaim seperti itu berdasarkan pengalaman pribadi? Taruhlah seandainya saya mencapai jhana, tetap saya tidak bisa mengklaim bahwa jhana mutlak perlu bagi pembebasan SETIAP ORANG di luar saya. Klaim seperti itu hanya bisa berasal dari INTERPRETASI TERTENTU atas sutta-sutta, bukan berdasarkan pengalaman pribadi, melainkan berdasarkan tafsiran kitab suci, yang bisa disanggah oleh orang lain berdasarkan kitab suci juga. (Mungkin hanya seorang Buddha yang bisa mengklaim seperti itu berdasarkan pengalaman pribadi, dan saya tidak pernah membaca Buddha mengklaim seperti itu secara eksplisit!)

Terlepas dari klaim beliau tentang perlu-tidaknya jhana untuk pembebasan, kenikmatan/kebahagiaan yang beliau rasakan di dalam jhana itulah yang mendorong beliau mengajarkan Dhamma dengan paradigma "Kebahagiaan Tertinggi". Ini sangat jauh dengan Buddha yang mengajarkan Dukkha.

Bahkan Ajahn Brahm sampai mengklaim bahwa kebahagiaan jhana adalah "sangat dekat" dengan "kebahagiaan nibbana":

"Dari jhana kita melaju ke suatu kebahagiaan yang sedikit lebih tinggi, dan itu adalah nibbana." (Superpower Mindfulness, hlm. 307)

Sekali lagi, maaf saja, saya lihat ini adalah pendistorsian terang-terangan terhadap Buddha Dhamma! Ajahn Brahm yang terobsesi dengan kebahagiaan jhana mengajarkan bahwa kebahagiaan nibbana "sedikit lebih tinggi" daripada kebahagiaan jhana. Jhana diangkat tinggi-tinggi sedemikian rupa sehingga nibbana hanya "sedikit lebih tinggi" daripada jhana.

Tampaknya Ajahn Brahm melupakan nasehat guru beliau, Ajahn Chah.

Saya ingin menutup posting ini dengan beberapa nasehat dari Ajahn Chah, guru Ajahn Brahm:

TANYA: Perlukah masuk ke dalam jhana dalam latihan kita?

AJAHN CHAH: "Tidak, jhana tidak perlu. Anda harus mengembangkan ketenangan dan pemusatan perhatian secukupnya. Lalu Anda menggunakannya untuk memeriksa diri Anda. Tidak diperlukan sesuatu yang istimewa. Jika jhana muncul dalam praktik Anda, itu juga OK. Cuma jangan melekat padanya. Beberapa orang terobsesi dengan jhana. Bisa sangat menyenangkan main-main dengan jhana. Anda harus tahu batas-batasnya. Jika Anda arif, Anda tahu kegunaan dan keterbatasan jhana, seperti Anda tahu keterbatasan anak kecil dibandingkan orang dewasa."

(A Dhammatalk by Ajahn Chah, Questions and Answers)

TENTANG BAHAYA SAMADHI/JHANA

"Samaadhi dapat merugikan atau bermanfaat bagi pemeditasi; Anda tidak bisa bilang itu hanya merugikan atau hanya bermanfaat. Bagi orang yang tidak memiliki kearifan samaadhi merugikan, tetapi bagi orang yang memiliki kearifan samaadhi bisa bermanfaat, bisa menghasilkan pencerahan.

Yang bisa merugikan bagi pemeditasi adalah jhana, yakni samaadhi dengan ketenangan yang mendalam dan terus-menerus. Jhana ini menghasilkan kedamaian mendalam. Bila terdapat kedamaian, terdapat kebahagiaan. Bila terdapat kebahagiaan, muncullah keterikatan dan kelekatan terhadap kebahagiaan itu."


(Ajahn Chah, "A Taste of Freedom")
User avatar
Hudoyo Hupudio
 
Posts: 1284
Joined: Fri May 07, 2010 10:26 pm
Location: Jakarta, Indonesia

Re: Ajahn Brahm memutar-balik Empat Kebenaran Mulia?

Postby Hudoyo Hupudio » Sun May 23, 2010 10:13 am

TOTOK:

pak hudoyo hebat sekali, tapi pak saya mau nanya kalo pas berdebat gitu bapak mengamati akunya bapak ga?


HUDOYO HUPUDIO:

Mas Totok, 'aku' saya masih sering timbul, tidak berbeda dengan Anda, tapi saya bisa dengan cepat mengenali munculnya 'aku' itu, sehingga 'aku' itu lenyap kembali hampir seketika itu juga.

Lagi pula saya cukup sadar/eling untuk mengarahkan tindakan 'aku' saya untuk hal-hal yg bermanfaat bagi sesama.


ELLEN KRISTI:

sepertinya Ajahn Brahm bisa lebih diterima komunitas Buddhis ketimbang Krishnamurti ya, pak?


HUDOYO HUPUDIO:

@Ellen: apakah kuantitas menunjukkan kualitas?

Ingat episode ketika Buddha Gautama baru saja mencapai pencerahan sempurna: pada awalnya beliau enggan mengajarkan Dhamma, karena beliau melihat: "Kebenaran ini sangat dalam, halus, tidak bisa dipahami hanya dengan pemikiran belaka, hanya bisa dipahami oleh orang yang arif. Tetapi kebanyakan manusia menyenangi kenikmatan dunia, mereka tidak mengerti akan hukum kesaling-bergantungan, tidak mengerti akan kepadaman, pembebasan."

Tetapi akhirnya Buddha memutuskan mengajarkan Kebenaran itu, karena melihat: "Namun, ada SEDIKIT manusia yang sudah tipis debu yang menutupi matanya; mereka akan mengerti."

Nah, fakta psikologis manusia ini tetap sama selama 2500 tahun. Sekalipun Agama Buddha berkembang dengan maraknya ke seluruh dunia, ke Barat, tetapi tetap saja di kalangan umat Buddha yang ratusan juta jumlahnya itu, sangat sedikit yang akan mengerti Kebenaran. Persis sama dengan sangat sedikitnya proporsi umat Islam yang berminat pada mistisisme (Tasawuf), atau umat Kristen yang berminat pada mistisisme Kristen, dsb.


FIONA HARTANTO:

Itu karena sebagian besar umat Buddha - seperti juga sebagian besar umat agama lain - memiliki mentalitas manja, malas, pasrah & mudah dibodohi. Maka tidak heran jika pemuka2 agama yg penuh dengan janji surga laris manis digemari. Jarang ada orang yang mau memahami kebenaran dgn usaha sendiri. Maunya produk jadi yang enak2. Pokoknya kalo percaya ini dijamin hasilnya begini. Ajaran Krishnamurti tidak cocok untuk manusia2 bermental demikian.


HUDOYO HUPUDIO:

Tanggapan dari Nirmala Lee (Lie Zephyrus):

"Yahh.. terserah anda deh. Saya mohon maaf kalau sudah menyakiti perasaan anda.. itu adalah hal yang sama sekali tidak disengaja.. saya ini cuma orang biasa, umat awam, gak pernah yang namanya vipasana atau jhana atau apalah.

Saya cuma iseng ikutan upload comment soalnya topiknya menarik... itu aja ok.. Sama sekali ga ada maksud menyakiti. toh saya tidak kenal anda dan anda juga tidak kenal saya. Saya juga ga bilang anda salah kok... kalau memang debat yang anda buat sendiri sudah dianggap memuakkan ya sudah toh diakhiri saja. Semoga pemohonan maaf saya bisa mengakhiri debat antara kita tanpa menimbulkan suatu kesalah pahaman lagi, agar tidak tercipta karma buruk apa pun antara kita. Terima kasih =)
with metta."


HUDOYO: Tulisan Anda mencerminkan ketulusan Anda. Terima kasih banyak. Saya juga minta maaf kepada Anda.

Salam,
Hudoyo


FIONA HARTANTO:

pesan moralnya: kalo gak paham topiknya jangan komentar sembarangan, apalagi sekedar iseng... itu sikap yang tidak bertangggung jawab... mudah2an si nirmala lee ada di FB bapak & membaca ini
User avatar
Hudoyo Hupudio
 
Posts: 1284
Joined: Fri May 07, 2010 10:26 pm
Location: Jakarta, Indonesia

Re: Ajahn Brahm memutar-balik Empat Kebenaran Mulia?

Postby Hudoyo Hupudio » Sun May 23, 2010 10:15 am

SANTI CENG:

Pertama saya membaca 4 Kebenaran Mulia ala Ajahn Brahm, saya surprise banget.. Wow... Masuk logika, ada penderitaan ada juga kebahagiaan... sebenarnya sama aja, bedanya dilihat dari sudut pandang yang berbeda saja...
Seperti teknik pengajaran untuk Anak : "Jangan Nakal ya..." menurut psikolog ada efek negatif karena kita menekankan negatifnya... takutnya anak hanya menangkap "nakal"nya saja. Sebaliknya jika "Pinter ya.." itu sudah jelas, anak tidak akan salah lagi... mungkin ada yang protes dengan Ajahn Brahm... tapi menurut saya beliau tidak memutarbalikkan ajaran Buddha...sebaliknya beliau memberikan sentuhan warna yang membuat lebih indah...


HUDOYO HUPUDIO:

Kalau begitu mengapa Sang Buddha HANYA mengajarkan tentang 'dukkha' dan 'lenyapnya dukkha'? Ingat, di dalam Empat Kebenaran Mulia, Sang Buddha tidak menyebut-nyebut sama sekali kata "Kebahagiaan". Yang disebut sebagai "Kebahagiaan" oleh Ajahn Brahm itu sesungguhnya adalah "Lenyapnya Dukkha". Mengapa Sang Buddha tidak memberikan "sentuhan warna yang membuat ajaran beliau leibh indah", seperti dilakukan oleh Ajahn Brahm? Apakah Ajahn Brahm lebih pintar dari Sang Buddha?


RAHMAN MH:

Fakta yang tidak terbantah, bahwa manusia sebetulnya menderita dan menginginkan kebahagiaan. Dengan memahami 4 kebenaran mulia, berakhirlah penderitaan dan tercapailah Kebahagiaan(?). Jadi ada penderitaan dahulu, kemudian ada keinginan untuk Bahagia.


THOMAS:

Sebagai pembanding, Sang Buddha pernah menunjukkan surga dan bidadari kpd seorang yg gandrung pd wanita utk membuatnya tekun berlatih. Akhirnya, orang tsb menjadi arahat, yg tentu saja tidak tertarik lagi pada surga dan isinya...
'Tipuan marketing', bungkusnya tidak sama dengan isinya...

Apakah maksud Ajahn Brahm juga begitu? Apakah dia yg bertahun-tahun hidup dalam aturan ketat bhikku hutan, di dalam batinnya, tersesat pada delusi pencarian kebahagiaan? Apakah Ajahn Brahm yg sudah mengalami jhana dan nimitta masih tidak paham akan Anicca dan Anatta?


HUDOYO HUPUDIO:

@Thomas: pertanyaan-pertanyaan itu hanya Ajahn Brahm sendiri yang bisa menjawabnya.

Tentang apakah [seseorang] yg sudah mengalami jhana dan nimitta masih tidak paham akan Anicca dan Anatta? -- Jawabnya: Bisa! Jhana & nimitta tidak serta merta menghasilkan kearifan.

Tentang contoh Sang Buddha mengiming-imingi orang dengan bidadari di surga, saya melihatnya sangat berbeda secara mendasar dengan apa yang dilakukan oleh Ajahn Brahm. Sang Buddha melakukannya dalam kasus individual --kemungkinan besar dengan pengetahuan jernih tentang apa yang akan terjadi. Sedangkan Ajahn Brahm menuliskan Empat Kebenarannya dalam sebuah buku, yang dibaca oleh ribuan orang, yang bagi saya merupakan pemutarbalikan ajaran Buddha Gotama.
User avatar
Hudoyo Hupudio
 
Posts: 1284
Joined: Fri May 07, 2010 10:26 pm
Location: Jakarta, Indonesia

Re: Ajahn Brahm memutar-balik Empat Kebenaran Mulia?

Postby Hudoyo Hupudio » Sun May 23, 2010 11:38 am

-----------------------------------------
<Dalam arsip diskusi ini di Facebook, tampaknya Krishnaputra Libra telah menghapus posting-postingnya. Apa yg ditulisnya dapat direkonstruksikan dari jawaban saya terhadapnya.>
-----------------------------------------

HUDOYO HUPUDIO:

Dari: Santi Ceng
Pertama saya membaca 4 Kebenaran Mulia ala Ajahn Brahm, saya surprise banget.. Wow... Masuk logika, ada penderitaan ada juga kebahagiaan... sebenarnya sama aja, bedanya dilihat dari sudut pandang yang berbeda saja...
Seperti teknik pengajaran untuk Anak : "Jangan Nakal ya..." menurut psikolog ada efek negatif karena kita menekankan negatifnya... takutnya anak hanya menangkap "nakal"nya saja. Sebaliknya jika "Pinter ya.." itu sudah jelas, anak tidak akan salah lagi... mungkin ada yang protes dengan Ajahn Brahm... tapi menurut saya beliau tidak memutarbalikkan ajaran Buddha...sebaliknya beliau memberikan sentuhan warna yang membuat lebih indah...

HUDOYO HUPUDIO:

Jawaban Hudoyo:
Kalau begitu mengapa Sang Buddha HANYA mengajarkan tentang 'dukkha' dan 'lenyapnya dukkha'? Ingat, di dalam Empat Kebenaran Mulia, Sang Buddha tidak menyebut-nyebut sama sekali kata "Kebahagiaan". Yang disebut sebagai "Kebahagiaan" oleh Ajahn Brahm itu sesungguhnya adalah "Lenyapnya Dukkha". Mengapa Sang Buddha tidak memberikan "sentuhan warna yang membuat ajaran beliau leibh indah", seperti dilakukan oleh Ajahn Brahm? Apakah Ajahn Brahm lebih pintar dari Sang Buddha?


JULYANTO SUTANDANG:

pada dasarnya lenyapnya dukkha tidak sama dengan kebahagiaan, kebahagiaan ada karena adanya sankhara, vedana, dan vinnana... so?


FIONA HARTANTO:

Waduh pak, ini menarik sekaligus ironis karena disampaikan oleh seorang bhikkhu... :(

4 kebenaran mulia Sang Buddha menurut yang saya pahami, adalah melenyapkan penderitaan, bukan mencapai kebahagiaan. Keduanya adl hal yang berbeda, karena pengertian penderitaan lenyap lalu diganti menjadi kebahagiaan adalah lagi2 paham dualisme, ciptaan pikiran.

Dalam ceramah bhante Pannyavaro ada kalimat yg kira2 begini maksudnya: Orang emoh penderitaan, tetapi tidak benar2 berusaha melenyapkan penderitaan, melainkan mengalihkan/menutup2i saja. Ini menjelaskan sudut pandang ajahn brahm ini.

Yang paling mengganggu adalah kesan komersil spt yang ditulis berikut <<Seperti yang diketahui oleh setiap penjual, kesan pertama adalah segalanya. Maka dari itu saya memperkenalkan Empat Kebenaran Mulia sebagai berikut...>>


JULYANTO SUTANDANG:

Hehehe... sabbe satta bhavantu sukhitatta...
sian cai...sian cai...
om santi santi om... :)


IRVYN WONGSO:

Mengapa dikatakan "Semoga Semua Mahluk Hidup Berbahagia" dan bukan "Semoga Semua Mahluk Hidup Melenyapkan Dukkha"?

Dari kedua kalimat ini, yang mana yang lebih baik? Ada yang bilang A, ada yang bilang B, ada yang bilang bukan dua-duanya, ada yang bilang keduanya sama aja, ada yang bilang tidak ada satupun yang relevant.

Tapi apalah yang ku tahu :-)


HUDOYO HUPUDIO:

Ucapan salam yang disampaikan dalam pergaulan masyarakat ramai jelas tidak sama dengan Dhamma Sang Buddha. Sang Buddha menyatakan, "Kutemukan Kebenaran yang mendalam ini, yang begitu sukar dilihat, begitu sukar dipahami, menenangkan, dan halus, yang tidak tercapai hanya dengan pemikiran, dan hanya terlihat oleh mereka yang arif.

Tetapi dunia menyenangi kenikmatan, bersenang hati dalam kenikmatan, terpukau oleh kenikmatan. Sesungguhnya,manusia seperti itu tidak mungkin memahami hukum keterkondisian dari segala sesuatu, mereka tidak bisa memahami akhir dari segala bentukan, pelepasan segala unsur-unsur kelahiran kembali, meredupnya keinginan, pelepasan, pemusnahan, kepadaman (nibbana).

Namun, ada manusia yang sudah sedikit debu yang menutupi matanya, merekalah yang akan mengerti kebenaran ini." (Kata-kata Sang Buddha ketika baru saja mencapai Pencerahan Sempurna, M.26)

HUDOYO HUPUDIO:

@Irvyn:
Ucapan "semoga semua makhluk berbahagia" hanyalah ucapan untuk menyenangkan hati orang banyak, tetapi tidak mengandung kebenaran. Sang Buddha menyatakan: "Eksistensi ini dukkha."
Jadi, yang TEPAT adalah: ""Semoga Semua Mahluk Hidup Melenyapkan Dukkha (mencapai nibbana)".


IRVYN WONGSO:

hehe...OK. maka demikianlah adanya.

Kebetulan saya selama 12 tahun lebih tinggal di Australia. Banyak sekali orang2 disana yang Free Thinker, tetapi pada saat saya menjelaskan bahwa hidup ini adalah Dukha, mereka langsung tidak berminat mendengar, sehingga timbul image bahwa Buddhism itu adalah agama pessimistik. Kalau mendengar saja mereka sudah tidak tertarik, bagaimana mungkin kita bisa menjelaskan kebenarannya sedangkan kesempatannya saja sudah tidak diberikan?

Tetapi kalau kita katakan bahwa hidup ini adalah jalan/kesempatan untuk mencapai kebahagiaan, maka mereka mulai tertarik...yang tentu saja pada akhirnya baru diterangkan bahwa pada dasarnya Eksistensi ini adalah Dukkha.

Apakah cara begini salah menurut ajaran Buddha Dhamma?


SANTI CENG:

@Hudoyo: Hehe..Menurut saya penyampaian dari sudut pandang berbeda tidak mencerminkan kepintaran seseorang, Ajahn Brahm juga mulai menyampaikan 4 kebenaran mulia ini beberapa tahun ini, saya tidak tahu persisnya... dan menurut saya: Ajahn Brahm dengan gaya khas Bule-nya, besar dengan pola asuh untuk melihat segala sesuatu secara positif, optimis, mencoba menjelaskan supaya orang yang memandang ajaran Buddha adalah ajaran pesimistis bisa lebih terbuka, bahwa Buddha tidak semata-mata hanya berkutat di penderitaan saja... Ajahn Brahm punya gaya sendiri, juga sang Buddha. Yang mana lebih bagus? tergantung pribadi orang. Saya suka gaya Sang Buddha (yang selalu mengucapkan sesuatu 3x, seperti Sadhu, sadhu, sadhu :P), Ajahn Brahm yang sering menyelipkan lelucon, Bhante Panya yg sederhana dalam bahasanya tetapi jelas, Bhante Uttamo yang menonjol dengan gaya sihir tangannya.. hehehe.. mungkin yang lebih cocok adalah sentuhan warna yg lebih segar, bukan lebih indah..


FIONA HARTANTO:

@Pak Hud: Saya jadi bertanya-tanya, mengapa ajahn brahm begitu memiliki keberanian untuk menggeser inti kebenaran (4 kebenaran mulia Sang Buddha)...?


XING ING SIM:

@romo:
Apakah Ajahn Brahm lebih pintar dari Sang Buddha?

bukan salah guru, tapi salah murid skrg bodo2 dan malas2 jadi harus dipancing dengan yang indah2


SAPTO T POEDJANARTO:

di awal & di akhir adalah hening............


IRVYN WONGSO:

Contoh improvisasi yang lain adalah istilah yang sering di pakai di Zen Buddhism "Jika bertemu dengan Buddha di Jalan, Bunuhlah dia". Padahal kita tahu, kalau menurut Tripitaka, apa yang akan terjeadi pada seseorang yang mencelakai Buddha? :-)


SANTI CENG:

@Irvyn: Jelas sekali Ajahn Brahm menggunakan cara tsb. Tujuannya bukan untuk memutarbalikkan ajaran Sang Buddha tetapi lebih ke strategi untuk mengambil kesempatan dalam memperkenalkan ajaran sang Buddha. Kita mau berbuat baik, orang menolak, sebenarnya bukan mau menolak, hanya tidak cocok dengan cara kita mendekatinya, ada ketakutan dalam benaknya, tetapi ketika kita bisa berbicara dengan hal yang bisa diterima, akhirnya mereka mau mendengar, dan ternyata oh...bener ya... akhirnya mereka mau menerima... mungkin contohnya seperti ini.

@fiona: bukanlah maksud Ajahn brahm menggeser inti kebenaran.. Kenapa beliau berani? Tujuannya bener kenapa harus takut? Jelas sekali kok Ajahn Brahm memberikan alasannya menyusun ulang mengenai 4 kebenaran Mulia tsb.

@all: Ada murid yang lebih pinter dari gurunya... bukan hal mutlak kok jika guru harus lebih pinter dari muridnya... Sebelum menjadi Sang Buddha, Pangeran Sidharta Gotama juga berguru...Setidaknya ini adalah pandangan saya..


HUDOYO HUPUDIO:

@Irvyn:
<<Apakah cara begini salah menurut ajaran Buddha Dhamma?>>
Saya tidak berhak menilai apakah cara Anda itu salah atau benar, karena saya tidak pernah melakukannya sendiri. Saya hanya bisa bilang bahwa pembebasan hanya bisa tercapai bila orang menyadari fakta dukkha sedalam-dalamnya. 'Sedalam-dalamnya' dalam arti --bukan hanya memahami secara intelektual belaka-- melainkan menembus fakta itu di dalam meditasi vipassana -- bukan meditasi jhana yang tujuannya untuk mencari kebahagiaan, seperti dilakukan Ajahn Brahm.

Jadi terserah Anda sendirilah yang menilai, apakah cara Anda itu bisa membawa orang Australia itu untuk menjalankan meditasi vipassana atau tidak. Ataukah hanya berhenti di meditasi jhana saja.

HUDOYO HUPUDIO:

@Santi: Buddha mengajarkan 'dukkha'. Itu saja. Perkara orang menilainya sebagai ajaran pesimistik, itu hanya menunjukkan kegelapan batin orang itu saja. Kegelapan batin ini tidak bisa dihilangkan dengan mengubah ajaran 'dukkha' itu dan "menyesuaikannya" dengan citarasa orang banyak sehingga menjadi ajaran 'kebahagiaan'.

Tentang berbagai penampilan bhikkhu DALAM MENGAJAR DHAMMA, bagi saya itu mencerminkan kedalaman atau kedangkalan pemahaman bhikkhu itu saja. Yang terbaik adalah Sang Buddha (beliau tidak pernah menampilkan lelucon dalam mengajar Dhamma). Mengajar Dhamma bukanlah entertainment sebagaimana sering kita lihat pada penampilan pendeta Kristen di TV.

HUDOYO HUPUDIO:

@Bu FIona: Ajahn Brahm adalah guru meditasi jhana, yang memberikan iming-iming 'kebahagiaan' bagi mereka yang melakjukan meditasi jhana.

HUDOYO HUPUDIO:

@Ing Sim:
<<bukan salah guru, tapi salah murid skrg bodo2 dan malas2 jadi harus dipancing dengan yang indah2>>
Guru yang "memancing dengan yang indah-indah" itu sendiri juga terperosok. :)

HUDOYO HUPUDIO:

@Sapto T.P.:
<<di awal & di akhir adalah hening.......>>
Ini cocok untuk meditasi, tapi tidak membantu mencerahkan dalam diskusi.

HUDOYO HUPUDIO:

@Irvyn:
<<Contoh improvisasi yang lain adalah istilah yang sering di pakai di Zen Buddhism "Jika bertemu dengan Buddha di Jalan, Bunuhlah dia".>>
Kalimat Zen ini BUKAN improvisasi dengan membalikkan arti, melainkan langsung mengungkap intisari pesan, yaitu "Jangan punya konsep apa pun."

Sangat berbeda dengan Ajahn Brahm, yang menggantikan ajaran dukkha dengan iming-iming kebahagiaan (yang tidak pernah kekal).

<< Padahal kita tahu, kalau menurut Tripitaka, apa yang akan terjadi pada seseorang yang mencelakai Buddha? :-) >>
Anda tidak bisa membedakan mana metafora dan mana fakta.


SANTI CENG:

Huahahaha..... Thanks atas diskusi menarik ini.
By the way, saya mau sharing berikut ini :
Ketika saya mengucapkan Semoga semua makhluk berbahagia, mungkin terdengar untuk menyenangkan orang lain... tapi prakteknya, saat saya mengucapkan hal itu, saya merasakan bahagia, ego saya berkurang, rasa benci berkurang, emosi marah juga berkurang... boleh dibilang Dukkha : Lobha, Dosa, Moha dan Mara dalam diri terkikis dan mulai lenyap... Dan jika Dukkha mulai lenyap maka Nibbana mulai tercipta….

Jadi untuk tujuan akhir, Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Semoga Semua Makhluk Melenyapkan Dukkha menurut saya adalah sama.
Dan untuk melakukan Meditasi Vippasana atau Jhana adalah pilihan masing-masing... Niat masing-masing...Karma masing-masing.

~Semoga Semua Makhluk Berbahagia~


HUDOYO HUPUDIO:

@Santi:
<<Tujuannya bukan untuk memutarbalikkan ajaran Sang Buddha tetapi lebih ke strategi untuk mengambil kesempatan dalam memperkenalkan ajaran sang Buddha.>>
Ajaran Sang Buddha adalah 'dukkha', dan orang tidak bisa mengajarkan 'dukkha' melalui iming-iming 'kebahagiaan'.

<<Sebelum menjadi Sang Buddha, Pangeran Sidharta Gotama juga berguru...Setidaknya ini adalah pandangan saya..>>
O, jadi menurut Anda, Ajahn Brahm berguru kepada Sang Buddha, seperti Pangeran Siddhartha berguru kepada Alara Kalama? Aneh, kalau begitu.


CITRA GUNAWAN:

<<<Ajahn Brahm adalah guru meditasi jhana, yang memberikan iming-iming 'kebahagiaan' bagi mereka yang melakjukan meditasi jhana.>>>
Bukankah konsep berhentinya pikiran dalam MMD juga ada iming-imingnya yakni keheningan dalam MMD pak ?

mohon petunjuk yah ...

salam,


HUDOYO HUPUDIO:

@Khrisna:
<<penderitaan dan kebahagiaan adalah sebuah kondisi, sebuah koin berwajah dua>>
Di dalam kenyataan Dhamma, kenyataan eksistensial, 'dukkha' dan 'kebahagiaan' bukanlah dua pengertian yang SETARA, yang bisa dipertukarkan. 'Dukkha' adalah FAKTA DASAR EKSISTENSI, disebabkan karena kelekatan kepada badan & batin ini. Sedangkan 'kebahagiaan' tidak lebih dari harapan, cita-cita, atau kenyataan sesaat yang tidak punya arti penting.

HUDOYO HUPUDIO:

@Citra:
<<Bukankah konsep berhentinya pikiran dalam MMD juga ada iming-imingnya yakni keheningan dalam MMD pak ?>>
Kalau 'berhentinya pikiran' diperkenalkan pada awal, memang bisa sekali menjadi iming-iming. Oleh karena itu, dalam retret MMD, di mana ada diskusi sekurang-kurangnya 5x, saya tidak pernah menampilkan 'berhentinya pikiran' pada diskusi ke-1; paling-paling pada diskusi ke-3 atau ke-4, setelah saya cukup bicara tentang konsekuensi pikiran & si aku.


SANTI CENG:

<<Sebelum menjadi Sang Buddha, Pangeran Sidharta Gotama juga berguru...Setidaknya ini adalah pandangan saya..>>
Maksud saya, kita tidak bisa menilai guru harus lebih pintar dari muridnya. Sidharta pernah menjadi murid tetapi toh dia yang mengalami pencerahan, menjadi Sang Buddha... tapi saya tidak bilang kalau Ajahn Brahm lebih pintar dari Sang Buddha lho... setidaknya tidak terpikir untuk membandingkan... saya lebih menghargai masing-masing orang.


HUDOYO HUPUDIO:

@Santi;
<<Dan untuk melakukan Meditasi Vippasana atau Jhana adalah pilihan masing-masing... Niat masing-masing...Karma masing-masing. ..>>
Silakan. Jalan Anda berbeda dengan jalan MMD.


CITRA GUNAWAN:

@ pak Hudoyo : Lalu boleh tahu langkah awal bapak dalam mengembangkan praktek MMD agar dikenal oleh umum ? :)


SANTI CENG:

@Citra Gunawan : heeheh... ikutan nimbrung ya... mungkin dikenalkan lewat diskusi seperti ini. Saya yang belum tahu MMD jadi tahu. Saya tahu tentang Vippasana dan saya membaca Versi Goenka, tapi saya baru tahu tentang MMD dan Krisnamurty...


HUDOYO HUPUDIO:

@Khrisna:
<<Lenyapnya Dukkha apakah bisa berarti bahwa kita sudah benar-benar memahami bahwa hidup kita ini mengandung kebahagiaan dan juga penderitaan?>>
Untuk menanggapi pertanyaan ini, sebaiknya saya ceritakan kembali percakapan singkat antara Arahat Sariputta dan Arahat Udayi:

Pada suatu ketika Sariputta berkata kepada para bhikkhu: "Para sahabat, Sang Buddha berkata 'Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi'." Mendengar itu Udayi bertanya: "Sahabat Sariputta, bagaimana mungkin nibbana kebahagiaan, kalau di sini tidak ada perasaan apa-apa lagi?" Jawab Sariputta: "Justru karena di sini tidak ada perasaan apa-apa lagi, itu disebut kebahagiaan tertinggi."

HUDOYO HUPUDIO:

@Citra:
<<boleh tahu langkah awal bapak dalam mengembangkan praktek MMD agar dikenal oleh umum ?>>
Dalam diskusi ke-1 saya selalu menekankan, perlunya dipahami bahwa MMD ini bukan didorong oleh keinginan untuk mencapai sesuatu (kebahagiaan sejati, nibbana, penyatuan dengan Tuhan dsb), melainkan didorong oleh kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam batin kita sendiri, ada stres, konflik, dukkha dalam batin kita sendiri. Seperti perumpamaan wortel & cemeti untuk menggerakkan kuda menarik kereta, seorang meditator MMD bukan diiming-imingi wortel nibbana, melainkan didorong oleh cemeti dukkha.


SANTI CENG:


Oh begitu? Saya berbeda jalan dengan MMD. Boleh jelaskan secara singkat jalab MMD seperti apa dan bagaimana? Supaya saya bisa mengerti. Thanks Pak.


HUDOYO HUPUDIO:

@Khrisna:
<<Sepanjang pemahaman saya, saya hanya bisa memahami bahwa memang ada derita, dan memang ada bahagia di dalam hidup saya, ...>>
Lebih dalam dari itu, 'derita' dan 'bahagia' dalam hidup saya itu TIDAK SETARA. 'Derita' itu lebih mendasar sifatnya, dan 'bahagia' itu hanya di permukaan, tidak kekal, sehingga akhirnya adalah 'derita' juga.


CITRA GUNAWAN:

@ Santi Ceng : yup gak apa koq ... :)
Kalau ternyata demikian, dalam masa pengenalan-nya tentunya MMD ini mengalami pro-kontra kan ? dan untuk mengatasi hal ini, tentunya akhirnya keluarlah sebuah konsep yakni 'konsep berhentinya pikiran' juga disertakan pencapaian yang dihasilkan dalam MMD yakni 'keheningan dalam MMD'.

Jadi apa dalam hal ini, seorang meditator berbeda akan dianggap salah bila dia meng-iming-iming-i sesuatu sedari awal ? Menurut saya, tak ada yang benar ataupun salah toh, kembali kepada kita yang menilai... :)

salam,


HUDOYO HUPUDIO:

@Santi: Silakan baca artikel "Apakah MMD itu" di website MMD, http://meditasi-mengenal-diri.org/.

HUDOYO HUPUDIO:

@Santi:
<<tapi saya tidak bilang kalau Ajahn Brahm lebih pintar dari Sang Buddha lho... setidaknya tidak terpikir untuk membandingkan... saya lebih menghargai masing-masing orang.>>
Saya lebih menghargai orang yang bisa mengajarkan Dhamma Sang Buddha dengan benar.

HUDOYO HUPUDIO:

@Citra: jangan menyamakan proses dalam retret MMD dan perdebatan tentang MMD di milis-milis. Dalam retret MMD tidak ada sama sekali pro-kontra MMD.

Saya mengatakan MMD berangkat dari FAKTA dukkha. Kalau ada orang mau berangkat dari iming-iiming kebahagiaan, silakan saja.

Dalam thread ini, saya mensinyalir Ajahn Brahm memutarbalik ajaran Empat Kebenaran Mulia Sang Buddha. Itu saja.


CITRA GUNAWAN:

<<Seperti perumpamaan wortel & cemeti untuk menggerakkan kuda menarik kereta, seorang meditator MMD bukan diimingp-imingi wortel nibbana, melainkan didorong oleh cemeti dukkha.>>
hehehe ... maaf pak... Menurut saya, apapun alasannya, jelas harus ada 'dasar' sebagai acuan terlaksananya sebuah praktek ... :)

Hanya caranya dan perolehannya yang berbeda... :)

salam,

CITRA GUNAWAN:

@ pak Hudoyo : iya pak... saya gak menyamakan koq ... kan diatas saya dah tulis bukan mengenai retretnya, tapi mengenalkanya kepada umum ... :)

@ Khrisnaputra Libra : iya ... :D semua 'sementara' selalu berubah ... :)


HUDOYO HUPUDIO:

@Citra:
<<hehehe ... maaf pak... Menurut saya, apapun alasannya, jelas harus ada 'dasar' sebagai acuan terlaksananya sebuah praktek ... :)
Hanya caranya dan perolehannya yang berbeda... :)>>
Betul, caranya berbeda hasilnya pun berbeda.
Sang Buddha mulai dengan dukkha dan mengakhiri dengan lenyapnya dukkha. Hasilnya jelas.
Ajahn Brahm mjulai dengan iming-iming kebahagiaan, lalu mengajarkan jhana. Hasilnya saya tidak tahu.

HUDOYO HUPUDIO:

Cara saya mengenalkan MMD kepada umum bisa Anda baca dalam artikel "Apakah MMD itu?" di website MMD.
Di situ saya menyentuh tentang "keheningan', bahkan tentang Udana 8.3, tapi tidak pernah memberikan iming-iming kebahagiaan, melainkan selalu berangkat dari dukkha. Keheningan adalah lenyapnya dukkha, titik. Lain sekali dengan Ajahn Brahm.


CITRA GUNAWAN:

@ pak Hudoyo : masa bapak gak tau sih ? wkwkwk
Kan bapak sudah berasumsi kalau Ajahn Brahm mengajarkan jhana ? :D

sedikit JOKE yah ... :D

salam,


HUDOYO HUPUDIO:

Ajahn Brahm mengajarkan jhana bukan ASUMSI saya, melainkan FAKTA.
Banyak bhikkhu mengajarkan meditasi jhana, tapi tidak sampai memutarbalik Empat Kebenaran Mulia. Kalau AJahn Brahm, nanti dulu, perlu dikritisi.


FIONA HARTANTO:

@Santi:
<<bukanlah maksud Ajahn brahm menggeser inti kebenaran.. Kenapa beliau berani? Tujuannya bener kenapa harus takut? >>
Siapa yang berhak menilai/memutuskan bahwa tujuannya benar? Bila tujuannya adalah menarik umat dgn iming2 kebahagiaan, bukankah itu berarti mendukung & mengamini kebodohan batin? Lalu apa bedanya ajaran Sang Buddha dgn ajaran lain yg juga isinya iming2, spt misalnya berbuat baik krn ada pahalanya, sehingga org berbuat baik semata2 untuk kepentingan dirinya, bkn krn memang ingin berbuat baik dgn tulus? Bukankah ini bisa dibilang -selain kebodohan batin- juga kemiskinan mental?

@Pak Hudoyo: Oooh kalo ajahn brahm memang pengajar meditasi jhana... saya maklum... Dalam meditasi jhana, org tdk akan memahami esensi hidup adalah dukkha... so no more questions, sir :)

FIONA HARTANTO:

@Xing Ing Sim:
<<Apakah Ajahn Brahm lebih pintar dari Sang Buddha? Bukan salah guru, tapi salah murid skrg bodo2 dan malas2 jadi harus dipancing dengan yang indah2>>
jelas gurunya yang paling besar kesalahannya dgn melakukan iming2.... murid yang bodoh perlu "digampar"... tentu seorang guru yang bijak punya cara sendiri.... spt yang diceritakan bhante Pannyavaro, seorang bhikkhu Tibet memindah-tugaskan seorang muridnya yang telah berjasa dalam membangun vihara, karena sang guru ingin membuat kempes ego sang murid... itu baru oke tuh.


HUDOYO HUPUDIO:

@Khrisna:
<<Vipassana Hoedoyo ini memang agak spesifik Khrisnamurti. maaf pak hoed, tolong koreksi kalau salah :)>>
Ajaran Krishnamurti identik dengan vipassana murni yang diajarkan Sang Buddha di dalam Mulapariyaya-sutta & Bahiya-sutta.

HUDOYO HUPUDIO:

@Fiona: benar, dalam jhana orang tidak melihat dukkha, orang hanya menutupi dukkha.


FIONA HARTANTO:

@Citra:
<<dalam masa pengenalan-nya tentunya MMD ini mengalami pro-kontra kan ? dan untuk mengatasi hal ini, tentunya akhirnya keluarlah sebuah konsep yakni 'konsep berhentinya pikiran' juga disertakan pencapaian yang dihasilkan dalam MMD yakni 'keheningan dalam MMD'.>>
Dalam berhentinya aku - seperti istilah bhante Pannyavaro, istilah lainnya adalah "keheningan" spt dlm MMD, tidak lagi ada konsep, krn ini adalah kondisi/keadaan bebas total dari konsep/bentuk2 pikiran... bagi mereka yg belum memahami/mengalami, tentu saja hal ini dianggap sebagai konsep karena pikiran yang menilainya (pikiran tdk bisa memahaminya).... umat2 beragama lain yg mengikuti metode MMD & mengalami keheningan tersebut, mengerti bahwa ini adalah pemberhentian, tidak pernah mereka menyebutnya sbg sebuah konsep (bisa baca testimoni2 mereka)


HUDOYO HUPUDIO:

@Khrisna: silakan saja. Saya hanya menekankan bahwa dalam kesadaran duniawi, apabila orang merenungkan lebih dalam sedikit akan ternyata bahwa 'derita' itu TIDAK SETARA dengan 'bahagia'. ITULAH SEBABNYA Sang Buddha mengajarkan, "Hidup ini dukkha.".


CITRA GUNAWAN:

@ bu Fiona : Menurut hemat saya, apa yang ditulis disini atau dimanapun, baik tulisan saya maupun tulisan siapapun, semua adalah 'konsep', dan apa yang sudah dialami lewat praktek, itulah 'kenyataan' , Kalau ada sebuah pengalaman yang diceritakan secara tertulis, itu saya terjemahkan sebagai 'konsep tertulis dari pengalaman'... :)

semoga dimengerti maksud saya yah bu ... :)

salam,


FIONA HARTANTO:

@Citra: Berarti itu konsep Anda pribadi... soal konsep tulis menulis itu... :)


CITRA GUNAWAN:

@ bu Fiona : Sama seperti komentar ibu kepada tulisan saya juga kan ? ;)


HUDOYO HUPUDIO:

@Khrisna: Terima kasih atas penjelasan Anda tentang bagaimana guru meditasi dalam tradisi Vajrayana mengajar.
Di dalam MMD, hanya ada satu tuntunan, yakni tuntunan Sang Buddha dalam Mulapariyaya-sutta. Kalau cocok, silakan dipakai. Kalau tidak cocok, silakan cari guru lain.


FIONA HARTANTO:

@Santi:
<<Ketika saya mengucapkan Semoga semua makhluk berbahagia, mungkin terdengar untuk menyenangkan orang lain... tapi prakteknya, saat saya mengucapkan hal itu, saya merasakan bahagia, ego saya berkurang, rasa benci berkurang, emosi marah juga berkurang... boleh dibilang Dukkha : Lobha, Dosa, Moha dan Mara dalam diri terkikis dan mulai lenyap... Dan jika Dukkha mulai lenyap maka Nibbana mulai tercipta….>>
Apakah Anda berusaha menjelaskan bahwa jalan menuju pencerahan/Nibbana adalah dgn sekedar mengucapkan "Semoga Semua Mahluk Berbahagia"? Wah baru dengar nih, di sutta2 juga gak pernah dibahas

FIONA HARTANTO:

@Pak Hud: Benarkah kalo saya mengatakan bahwa meditasi konsentrasi/jhana bukanlah ajaran Sang Buddha, krn meditasi konsentrasi tingkat tinggi ini malah diajarkan kpd beliau oleh Alara Kalama yg juga mampu mencapai jhana2 tingkat tinngi? Krn Sang Buddha lalu menyadari bhw praktek tsb tidak membawa pada pembebasan total spt yang beliau harapkan, maka beliau melanjutkannya dgn praktek Vipassana dan mencapai pencerahan hanya dalam 1 malam? Maaf pak, saya bertanya krn saya tidak hafal sejarahnya, dulu pernah baca2 buku ttg ajaran Sang Buddha yang ditulis oleh bhikkhu Narada & ini yang saya ingat...

FIONA HARTANTO:

@Citra: wah ndak tau pak, saya sejujurnya ngga ngerti maksud anda.... tulisan saya bukan konsep, hanya respon dari diskusi di sini, karena saya kan tidak merumuskan doktrin2 spt misalnya Pancasila atau UUD 45 he he...


CITRA GUNAWAN:

@ bu Fiona : lha kalo ndak ngerti, yah ndak apa-apa toh ... tinggal dipilih aja koq ... direspon atau dicuekin (dan kenyataannya hal ini terus menerus direspon) ... :D

Kalau ibu menganggap tulisan ibu bukan konsep dan tulisan saya sebagai konsep yah nggak apalah ... Balik kepada sipemikir itu sendiri koq, gak perlu diperdebatkan toh ... :)

salam,


HUDOYO HUPUDIO:

@Fiona: Betul, Sang Buddha pernah belajar jhana dari Alara Kalama & Uddaka Ramaputta sampai jhana ke-9. Lalu beliau menyadari bahwa tiu bukan jalan pembebasan. Dan beliau melakukan anapanasati, sampai mencapai nibbana. (Anapanasati itu sendiri bisa didiskusikan bagaimana pelaksanaannya.)

Tapi di dalam Tipitaka Pali banyak sekali sutta di mana Sang ... See MoreBuddha mengajarkan jhana, di samping ada pula sutta (yang tidak sebanyak yang pertama) di mana Sang Buddha mengajarkan pembebasan tanpa melalui jhana.

Jadi dalam hal ini terserah pada kita masing-masing mau memilih jalan yang mana. Cuma satu hal mau saya tekankan, tidak ada satu jalan saja menuju nibbana. Kalau ada yang mengklaim seperti itu, itu tidak sesuai dengan kenyataan, dan tidak sesuai dengan Tipitaka Pali sendiri.

MMD sendiri melalui petunjuk Sang Buddha dalam Mulapariyaya-sutta. Ini identik pula dengan ajaran Krishnamurti, yang terpisah 2500 trahun dari zaman Sang Buddha.


FIONA HARTANTO:

@Citra: saya merespon pertanyaan anda yang ini nih
<<@ bu Fiona : Sama seperti komentar ibu kepada tulisan saya juga kan ? ;)>>
tapi kemudian muncul kalimat anda
<<tinggal dipilih aja koq ... direspon atau dicuekin (dan kenyataannya hal ini terus menerus direspon) ... :D>>
sehingga kesimpulannya, kalo ngga bersedia dijawab, jgn bertanya :DD

FIONA HARTANTO:

@Pak Hud: Kalo menurut saya pak, satu2nya jalan menuju pembebasan adalah menyadari seluruh fenomena fisik & batin sendiri, sampai yg sehalus2nya, yang tidak mudah ditangkap/disadari. Lalu dari menyadari itu akan timbul pemahaman/pengertian/pengetahuan. Hanya saja namanya beda2, pak. Dalam Buddhisme disebut Vipassana, Bapak menamakannya MMD, lalu Krishnamurti menyebutnya apa ya? saya malah gak ngeh, mungkin beliau menyebut meditasi saja ya? Lalu ada Sri Ramana Maharshi dgn metode "Who Am I" Inquiry, namun jika diamati semua yg saya sebut di atas kok sama ya pak, intinya adalah mengamati fenomena fisik & batin itu yg menciptakan pikiran akan AKU... menurut saya itu sih pak... Oke2 saja jika vipassana didahului oleh meditasi konsentrasi/jhana, namun tanpa dilajutkan dgn vipassana kan juga tidak akan ada pembebasa total? What do you think, pak?


CITRA GUNAWAN:

Maaf pak Hudoyo ... minta izin ruangan karena agak OOT nih ... :D

<<kalo ngga bersedia dijawab, jgn bertanya>>


lho bu Fiona yang baik (mgkn juga cantik nih) ...
emang saya pernah nulis gak bersedia dijawab yah? :))

Boleh saya minta penjelasan dari tulisan ibu mengenai :
<<@Citra: Berarti itu konsep Anda pribadi... soal konsep tulis menulis itu... :)>>
? :)


FIONA HARTANTO:

@Citra: Bahwa org menuangkan pikirannya/pengalamannya dalam tulisan, maka itu menjadi konsep... ya menurut saya itu pendapat anda/konsep anda sendiri/pribadi... saya tidak bicara konsep mengkonsep, gitu lohh :)


CITRA GUNAWAN:

@ bu Fiona : lalu menurut ibu, gimana yang disebut konsep ?


FIONA HARTANTO:

@Citra: Ya seperti yang saya sebut contohnya yaitu: Pancasila & UUD 45... sesuatu yg dirumuskan krn yg merumuskan percaya rumusannya paling benar/sesuai dgn situasi & kondisi dimana itu dirumuskan...


CITRA GUNAWAN:

bagaimana kalau saya 'edit' sedikit tulisan ibu diatas ... :)

"... sesuatu yg di'tulis'kan krn yg me'nulis'kan percaya 'tulis'annya paling benar/sesuai dgn situasi & kondisi dimana itu di'tulis'kan ..."

Apa menurut ibu ini konsep ? atau bukan ? :)

CITRA GUNAWAN:

oh begitu ... lalu kalau bukan konsep apa toh ? :)


FIONA HARTANTO:

@Citra: Bukan. Tulisan adl tulisan, apalagi konteksnya adl komentar diskusi. Mana bisa disamakan dgn Pancasila & UUD 45.


CITRA GUNAWAN:

@ bu Fiona : Okelah kalau pendapat ibu demikian... :)

Lalu kalau tulisan ini dibaca, dicerna, dinilai oleh orang yang membaca sampai sipembaca berkesimpulan, diambil maknanya dalam kehidupan orang tersebut... apa tulisan itu tetap tulisan dan bukan konsep ?

sedikit saya copy dari kbbi OL yah ... :)

kon·sep /konsép/ n 1 rancangan atau buram surat dsb; 2 ide atau pengertian yg diabstrakkan dr peristiwa konkret


FIONA HARTANTO:

@Citra: bukan, jadi terserah orang yg membacanya bagaimana mau menanggapi/menyimpulkan/memaknai...


CITRA GUNAWAN:

@ bu Fiona : oh begitu ... :)

Seperti ibu dan saya sudah terlibat diskusi disini, menurut saya kita masing-masing mempertahankan sebuah konsep mengenai 'konsep' ...

Di setujui atau tidak oleh ibu, hemat saya,kita dah terlibat dalam ke-Akuan kita masing-masing dalam mempertahankan/membenarkan sesuatu yang kita anggap benar (dalam hal ini menurut saya kita berdua bertahan dalam mempertahankan sebuah konsep)... :)

Maaf, kalau tulisan saya gak bisa diterima ... hanya sekedar pendapat aja koq ... :)

Nah Pak Hudoyo, waktu dan tempatnya saya kembalikan yah ... Terima kasih ... Monggo dilanjut ... :)

salam,


GUS MAMAT:

hehehe....nderek langkung...

permisi mas...hehehe...


WILLIAM YANG:

Pertama kali membaca memang terasa sedikit aneh, memang Ajahn Brahm tampaknya menggunakan pola pikir pemasar dalam hal ini...blunder? saya tidak tahu, tetapi saya kira pendekatan itu terpikirkan untuk membuat sesuatu menjadi lebih segar dan bersahabat dengan target marketnya.


WAYAN WINDRA:

Boleh ikutan Pak Hud?... Pertama saya ingin penjelasan tentang kata bahagia. Apakah kata ini sinonim dari senang? Ketika dukkha berakhir orang akan sampai pada bahagia? Apa yang saya pahami dari K, bila orang menyelami dukha/keterkondisian dirinya, orang akan melampaui suka-duka, baik-buruk, senang-sedih....apakah dalam kondisi ini kita bisa katakan orang telah sampai pada kebahagiaan?


GUS MAMAT:

aaahhhh.....!


LIE MEY NA:

Romo, mau share sedikit..

Setelah membaca mulapariyaya suta, pikiran menimbang nimbang. Batin merespon, Semakin dipikir dgn pikiran semakin terjebak.. :)

Romo, mau nanya, apakah K pernah bertemu dgn para bhikku, dimasa hidup beliau? Trims romo, ats jawabannya..
Romo, bgmana ya, K mengajarkan kebebasan kepada anak yg berumur 6 & 7 tahun? Apakah ada buku K yg menceritakan ttg bgmana beliau mengajarkan anak yg msh berumur 6 & 7 tahun mengenai kebebasan.. Kebebasan disini mungkin lebih kepada proses belajar di sekolah K. Trims romo.. :) (romo, bukunya yg udh di translit ke bhs indonesia..)

Romo, maaf br ngeh, kalimat yg diucapkan K pada pidato terakhirnya di bulan januari 1986, ternyata dalem maknanya..:)
Trims romo, maaf ya romo, nanyanya banyak.. :)


JONHUL WU:

setahu saya, Sang Buddha menekankan inti ajaranNya pada Dukkha dan Lenyapnya Dukkha.. Kebahagiaan Sejati hanya dapat dialami secara otentik oleh seseorang yang telah berpindah dimensi, yakni yang telah mengalami lenyapnya Dukkha secara purna.

Mengiming-imingi kebahagiaan kepada orang biasa yang masih dalam konteks terikat rasa suka dan tidak suka sepertinya akan menambah keterikatan pada konsep kebahagiaan yang belum final, maka dari itu menurut saya, pendekatan ini malah cenderung menjerumuskan orang kepada kebahagiaan semu dan membuatnya lari dari apa adanya.


HUDOYO HUPUDIO:

@Fiona:
<<Kalo menurut saya pak, satu2nya jalan menuju pembebasan adalah menyadari seluruh fenomena fisik & batin sendiri, sampai yg sehalus2nya, ...>>
Setuju 100%. Bu Fiona. :)

HUDOYO HUPUDIO:

@Citra:
<<Maaf pak Hudoyo ... minta izin ruangan karena agak OOT nih ... :D>>
Silakan, yang leluasa saja, Mas Citra. :)

HUDOYO HUPUDIO:

@Khrisna:
<<@Hoedoyo maaf pak saya sendiri belum pernah ikut MMD, dengan dasar apa saya mengatakan MMD cocok atau tidak cocok hehehe...>>
hehe ... ada salah paham sedikit di sini. Mohon maaf. :)

Hudoyo: "Di dalam MMD, hanya ada satu tuntunan, yakni tuntunan Sang Buddha dalam Mulapariyaya-sutta. Kalau cocok, silakan dipakai. Kalau tidak cocok, silakan cari guru lain." --

Pernyataan saya itu berlaku umum, kok, untuk sidang pembaca, bukan untuk Anda saja, Mas Khrisna. :)


HUDOYO HUPUDIO:

@William:
<<saya kira pendekatan itu terpikirkan untuk membuat sesuatu menjadi lebih segar dan bersahabat dengan target marketnya.>>
Anda betul; itu pun sudah diakui sendiri oleh Ajahn Brahm. Tapi saya bertanya lebih jauh: apakah itu bukan berartri "mengencerkan", "mentawarkan" ajaran Sang Buddha yang pada hakikatnya RADIKAL? Orang yang belajar Buddhisme dari Ajahn Brahm, bagaimana ia bisa melihat dukkha, kalau sejak awal diiming-imingi "kebahagiaan"? Pasti orang itu akan bermeditasi mengejar "kebahagiaan" itu; dan itu PERSIS YANG DIINGINKAN oleh Ajahn Brahm, karena ia mengajarkan meditasi jhana! Lalu, kapan orang itu akan melakukan vipassana, kapan orang itu akan bebas?

Sang Buddha bilang: "Aku HANYA mengajarkan dukkha dan lenyapnya dukkha."

Ajahn Brahm bilang: "Aku mengajarkan kebahagiaan dan jalan mencapai kebahagiaan." (Kalau sudah bicara tentang dua hal itu, maka kebenaran ke-3 dan ke-4 dari Ajahn Brahm tidak relevan lagi; untuk apa bicara tentang 'ketidakbahagiaan' dan 'penyebab ketidakbahagiaan'?)

Jelas ajaran Ajahn Brahm bertolak belakang dengan ajaran Buddha.

HUDOYO HUPUDIO:

@Windra:
<<Ketika dukkha berakhir orang akan sampai pada bahagia?>>
Benar sekali, Pak Windra, 'lenyapnya dukkha' sama sekali berbeda dengan 'kebahagiaan' yang dikenal oleh seorang puthujjana (seorang biasa)!!!

'Dukkha' itu FAKTA DASAR dari kehidupan/eksistensi ini; sedang "kebahagiaan" itu sangat superfisial, berlalu, tidak kekal; ada seribu kepala, seribu pula penafsiran tentang "kebahagiaan".

<<bila orang menyelami dukha/keterkondisian dirinya, orang akan melampaui suka-duka, baik-buruk, senang-sedih..>>
Benar sekali, Pak Windra. Di atas sudah saya tampilkan percakapan singkat antara Arahat Sariputta dan Arahat Udayi. Sariputta berkata: "Menurut Buddha, nibbana adalah kebahagiaan." -- Tanya Udayi: "Bagaimana mungkin nibbana adalah kebahagiaan? Kan di sini sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi?" -- Jawab Sariputta: "JUSTRU karena di sini tidak ada perasaan apa-apa lagi, maka itu disebut 'kebahagiaan."

HUDOYO HUPUDIO:

@Jonhul:
<<... menurut saya, pendekatan ini malah cenderung menjerumuskan orang kepada kebahagiaan semu dan membuatnya lari dari apa adanya.>>
Setuju 100%, Mas Johnhul.

HUDOYO HUPUDIO:

@Citra:
<<Nah Pak Hudoyo, waktu dan tempatnya saya kembalikan yah ... Terima kasih ... Monggo dilanjut ... :) >>
Terima kasih, Mas Citra.

Saya rasa, diskusi antara Bu Fiona & Mas Citra tentang kata 'konsep' ini disebabkan karena pemahaman/definisi yang berbeda yang digunakan oleh Mas Citra & Bu Fiona terhadap kata itu.

Menurut Mas Citra, 'konsep' adalah setiap hasil pemikiran yang dituangkan dalam bentuk kata-kata. Bahkan kata "bunga" itu sendiri adalah konsep, yang berbeda dengan bendanya. ("The word is not the thing.") Ini betul; tetapi mengapa tidak kita sebut saja 'PIKIRAN'; tidak perlu mencari istilah baru untuk itu: semua kata adalah PIKIRAN.

Menurut Bu Fiona, 'konsep' adalah suatu pengertian yang sedikit banyak canggih mengenai suatu hal yang diabstraksikan. (Lihat definisi dari KBBI.)

Dengan demikian, saya rasa diskusi tentang kata 'konsep' ini tidak perlu diteruskan.

***

<<... hemat saya,kita dah terlibat dalam ke-Akuan kita masing-masing ...>>
Saya rasa pernyataan ini sudah OOT di sini. Ini adalah suatu 'kebenaran' yang saya rasa secara implisit sudah diketahui oleh setiap orang yang berdiskusi di sini, sehingga tidak perlu ditampilkan di sini. Maaf. :)

HUDOYO HUPUDIO:

@Mey:
<<...Setelah membaca mulapariyaya suta, pikiran menimbang nimbang. Batin merespon, Semakin dipikir dgn pikiran semakin terjebak.. :) >>
Betul, Anda sudah mulai memahami Mulapariyaya-sutta. Sekarang teruskan pada LATIHAN yang dianjurkan oleh Sang Buddha di sana.

<<apakah K pernah bertemu dgn para bhikku, dimasa hidup beliau? >>
K sering terlibat diskusi dengan para bhikkhu & sarjana Buddhis. Antara lain: Dr. Walpola Rahula, Chogyam Trungpa dsb. Ada satu buku khusus yang memuat transkrip diskusi K dengan para 'Buddhist scholars' ini, berjudul "Can Humanity Change?", bisa diunduh dari internet.

<<bgmana ya, K mengajarkan kebebasan kepada anak yg berumur 6 & 7 tahun?>>
Kalau anak 6-7 tahun terlalu kecil; mereka belum berpikir, "saya ini datang dari mana, mau ke mana, untuk apa di sini, dsb." Anak-anak pada usia ini sebaiknya diajar meditasi samatha saja.

Di dunia ada beberapa sekolah berasrama untuk anak2 SMP/SMU, yang corak pendidikannya ... See Moremengikuti pendekatan K, beberapa di India, satu di Inggris, dan satu di California. Semasa hidupnya K sering berdikusi dengan mereka, dengan para gurunya dan para orang tua anak. Beberapa buku berisi transkrip diskusi/ceramah ini, "Think on These Things" dan "Beginnings of Learning", "Letters to the School" dsb, bisa diunduh dari internet.

Di Youtube, ada satu seri video (5 buah @ 15 menit) berisi diskusi K dengan anak-anak SMP/SMU sangat menarik & informatif. Lihatlah bagaimana K, dengan pendekatan tanya-jawab seperti Sokrates, membawa anak-anak itu berdiskusi tentang berbagai masalah kehidupan, yang biasanya tidak menarik perhatian anak-anak pada usia segitu (dan tidak menarik bagi... See More... Read More banyak orang dewasa juga :)) Lihatlah bagaimana anak-anak itu terpukau oleh orang tua berusia 89 tahun itu. Judul videonya: "It does not matter if you die for it."


WILLIAM YANG:

ya, saya setuju romo, memang ibarat nasi dan bubur, kita tak bisa memberikan pengalaman memakan nasi dengan menghidangkan bubur,
bubur memang lebih mudah di cerna, tetapi nasi yang telah menjadi bubur tetaplah bukan nasi. Proses dan pengalamannnya berbeda dan menyimpan potensi penyimpangan pengertian yang mengakibatkan kesalahpahaman.


SANTI CENG:

Jika saya tidak setuju dengan Ajahn Brahm maka saya akan menuliskan surat pribadi dan ditujukan untuk beliau. Karena saya setuju seperti papaaran saya sebelumnya, jadi saya ok saja. Saya membaca ulang buku dan tulisannya... sejauh ini saya bisa menerimanya, dan itu cukup. Mungkin sebagian orang merasa ektrim, menurut saya sama ektremnya dengan : "Ketemu sang Buddha bunuhlah Sang Buddha... "

Semoga semua makhluk berbahagia, semoga semua makhluk melenyapkan dukkha...


HUDOYO HUPUDIO:

@Santi: silakan Anda sependapat dengan Ajahn Brahm. Saya tidak sependapat dengan beliau. Dengan itu diskusi antara Anda dan saya bisa diakhiri.

Soal surat pribadi, masalah ini sudah lama saya angkat di forum diskusi E-Sangha berbahasa Inggris yang bertaraf internasioal; terjadi perdebatan ramai, diikuti oleh umat awam & beberapa bhikkhu. tapi tidak ada tanggapan resmi dari situs Ajahn Brahm. Jadi saya tidak merasa perlu menanyakan secara pribadi kepada beliau. Saya tidak berharap akan mengubah pandangan beliau.

Tentang ucapan "Ketemu sang Buddha bunuhlah Sang Buddha... " menurut saya sama sekali TIDAK EKSTREM. Itu adalah ungkapan tertinggi dalam meditasi vipassana ajaran Sang Buddha sendiri, Mulapariyaya-sutta.


DANIEL SUCHAMDA:

Kebahagiaan itu tidak bisa dicari. Kebahagiaan itu muncul begitu saja manakala berhenti mencari.

So, dengan demikian, rumusan ABrahm itu terbalik arahnya. Nanti akibatnya orang semakin mencari kebahagiaan, semakin berusaha, semakin ngotot, ada target, 'pompa-pompa', 'ciayou-ciayou', 'tekan-tekan', "tambah-tambah"....dhuarrr.....gak beda dengan agama2 lainnya : fanatik, frenetic....yg kemudian kebakaran jenggot manakala "balonnya" meletus. :D


SANTI CENG:

Ok, thanks tuk diskusinya.


IRVYN WONGSO:

hahahahaha...Luar Biasa....Saya katakan luar biasa, karena dari 111 comments mengenai "Kebebasan" yang begitu mendalam, tetapi tetap saja saya BELUM bisa bebas dari Dukkha.

Untuk Pak Hudoyo, terima kasih sekali atas penjelasannya, sangat bermanfaat untuk sebagian orang. Dan sesuai petunjuk dari Note ini untuk memberikan komentar, maka kita pun memberikan komentar. Tapi sebenarnya maksud Romo Hudoyo itu adalah untuk mendengar komentar kami atau untuk mengomentari komentar kami :-) Jangan salah paham, saya sama sekali gak keberatan. Hanya saja saya kagum sekali, status koq bisa sampe 100 comments lebih..hahaha. Saya yakin sekali Pak Hudoyo itu niatnya mulia, dan tidak ada capeknya membahas Dhamma.

Terima kasih sekali lagi.

Semoga jalan apapun yang kita yakini, kita dapat melewati seluruh proses di kehidupan kita, terus maju dalam perkembangan batin, dan semoga suatu saat nanti kita bisa merealisasikan apa yang kita bahas disini..yaitu bebas dari Dukkha. Smg Smua Hdp Berbahagia.


HUDOYO HUPUDIO:

@Daniel:
<<So, dengan demikian, rumusan ABrahm itu terbalik arahnya.>>
Betul. Coba simak kembali apa yang beliau tulis: "Jadi ajaran yang tak lekang waktu dari Buddhisme adalah bagaimana untuk menjadi lebih bahagia dan lebih bahagia lagi, sampai kita meraih puncak dari segala kebahagiaan dalam hidup ini juga: Nibbana." Jelas sekali Ajahn Brahm ... See Morememahami nibbana sebagai 'puncak dari kebahagiana-kebahagiaan duniawi yang terus meningkat.' Ini ABSURD!

Ya, maaf saja, sekalipun beliau seorang bhiikkhu jhana, tetapi saya lihat, baru sampai di situlah pemahaman beliau tentang nibbana. Beliau adalah guru meditasi jhana, mengajarkan jhana & kenikmatan jhana. Seluruh isi buku "Superpower Mindfulness" itu mengajarkan jhana, tetapi BUKAN mengajarkan kesadaran vipassana dan pembebasan. Uraian beliau tentang pembebasan pada bab-bab terakhir bukunya hanyalah kutipan kitab suci, tidak meyakinkan sebagai pengalaman pribadi.

HUDOYO HUPUDIO:

@Irvyn: terima kasih atas komen Anda. Memang pemahaman akan Dhamma Sang Buddha itu berlapis-lapis.
Sang Buddha sendiri bilang, "Kebenaran ini begitu sukar dilihat, begitu sukar dipahami ... hanya terlihat oleh orang yang arif.

Tetapi dunia ini menyenangi kenikmatan
[mulai dari kenikmatan duniawi yang kasar sampai kenikmatan meditasi] ... Mereka tidak memahami berakhirnya semua bentukan, tanggalnya semua akar kelahiran kembali, memudarnya keinginan, pelepasan, kepadaman, nibbana. Tapi ada orang-orang yang sudah sedikit debu yang menutupi matanya; mereka akan mengerti."

Menjadi tugas kitalah untuk berbagi pengalaman & pemahaman Dhamma dengan sesama saudara kita, agar kita bisa bersama-sama maju di dalam Dhamma.

Dan forum seperti FB inilah antara lain wadahnya.


LIE MEY NA:

Romo, sebelum ikut mmd, nda tau tujuannya mau apa? Batin saat itu mengembara, saya hidup tapi nda tau mesti ngapain?
Hidup kadang dgn pikiran yg menggebu-gebu u/ lebih baik & bijaksana lagi..

Hidup kadang membuat ketakutan ketika pikiran merespon negatif..
Hidup kadang membuat bingung, apa yg terjadi pada diri, tdk tau kenapa? ketika diri merasa ... See Moredamai, indah, bahagia sekali, badan terasa ringan & tdk merasa capek, senang yg dirasakan. ketika badan mulai terasa capek, mulai timbul reaksi batin yg tdk mau menerima.. Dan batin menciptakan tujuan u/ lebih bs mencapai damai..

Disaat itu kadang batin mencari-cari, kadang batin diam dan pasrah,semua bercampur menjadi ketidaktauan yg membuat hidup menjadi hampa..

Setelah mengikuti mmd, br batin mulai merespon dgn baik.. Trims romo..


PANEMBAHAN KEHENINGAN:

@pak hud : saya pernah melihat vcd Ajahn Bram, memang 'menyejukkan', tapi kok seperti tidak 'menyentuh' yaa...
Tentang 'Semoga semua makhluk berbahagia', bisakah dibarengi - mungkin tidak perlu sampai diucapkan yg berikutnya ini - dg pemahaman bhw berbahagia disini adalah 'dalam penjara pikiran masing2' :) yang berarti adalah dukkha, sehingga tepatlah kemudian 'Semoga semua makhluk melenyapkan dukkha' cmiiw pak hud :D


THOMAS Q PADANG:

Dlm kotbah Ajahn Brahm ttg anatta yg disampaikan pada retret vassa di vihara beliau di http://www.what-buddha-taught.net/Books ... ANATTA.htm beliau mengatakan : "In fact, the permanent happiness of a self is impossible.". Di sepanjang kotbah ini tdk dibahas kebahagiaan tertinggi yg disebut di buku Superpower Mindfulness itu, sebaliknya disebut ttg dukkha. Membaca kotbah tsb spt ada AB yg berbd dg yg menulis buku Superpower Mindfulness. Terlepas dr dugaan batin AB spt apa; dr kotbah tsb mungkin apa yg disampaikan di bukunya itu adl 'tipuan marketing'. Bagi yg serius sampai mengikuti retret meditasi 3 bulan; beliau bicara 'serius' juga. Bg yg tdk serius, silakan terpaku sj pd 'level' kebahagiaan tertinggi itu.

***

Hal yg sm ttg jhana, di kotbah ini tdk disebut jhana sbg kebahagiaan tp sbg tiadanya 5 rintangan batin. Hal ini membuat sy yg blm pernah mengalami jhana bertanya2, apakah pengalaman jhana berbd2 tergantung dr harapan seseorang? Maksud sy, apapun promosi sy ttg rasa air sungai itu sbg manis; pdhal kenyataanya kl dicicipi air itu tawar terlepas dr promosi, harapan, kepercayaan seseorg. Jd promosi AB ttg jhana sbg kebahagiaan duniawi; namun rasa jhana itu sendiri setlh dialami sebenarnya bukan itu.


HUDOYO HUPUDIO:

@Mas Panembahan: Betul sekali, Mas -- saya malah menonton penampilan Ajahn Brahm di Pantai Indah Kapuk beberapa waktu lalu; rasanya juga hambar, sekalipun penuh humor dan ribuan hadirin bertepuk tangan, saya kok tidak merasakan apa-apa, saya hanya melihat seorang entertainer. Ajaran belkau cuma iming-iming jhana, bukan Dhamma, pembebasan melalui vipassana. Lain sekali dwengan ceramah Bhante Pannyavaro. Saya pulang ketika beliau masih berbicara.

Tentang "Semoga semua makhluk berbahagia", ya saya setuju saja. -- Saya sering diundang 'jagong bayi' kalau ada teman baru punya bayi; semua orang bersukaria, saya sendiri kok malah prihatin: terbayang oleh saya dukkha yang akan dialami oleh bayi ini dalam hidupnya kelak.

Sebaliknya kalau saya melayat orang meninggal, saya lihat banyak orang menangis, tapi kok saya merasa lega, bahwa si almarhum(-ah) telah terlepas dari dukkha (untuk sementara pada saat ini). :)

HUDOYO HUPUDIO:

@Thomas: saya baru saja membaca referensi khotbah Ajahn Brahm yang Anda berikan. Isinya jauh lebih baik dari pada pemutarbalikan Empat Kebenaran Mulia dalam buku "Superpower Mindfulness". Tetapi tetap saja khotbah itu tidak lepas daripada promosi jhana. Salah satu kalimat yang membuat saya berhenti membaca adalah: "The ONLY WAY that one can understand what is meant by, "the self is not 'the doer'" is to get into a jhana." Ajahn Brahm tidak akan bisa memahami ajaran Sang Buddha dalam Mulapariyaya-sutta.

***

Tentang 'tipuan marketing', saya sama sekali tidak setuju dengan pendapat bahwa Buddha Dhamma memerlukan 'tipuan' seperti itu. Bagaimana mungkin sebuah kebenaran diawali dengan sebuah ketidakbenaran? Apalagi pemutarbalikan Empat Kebenaran Mulia itu ditulis dalam sebuah buku, yang dibaca oleh ribuan orang yang tidak akan pernah mendapat kesempatan mengikuti retret Ajahn Brahm yang "lebih mendalam", di mana 'tipuan marketing' itu bisa "diluruskan".

Suatu 'tipuan marketing' pada dasarnya mengingkari fakta yang dengan gamblang telah ditunjukkan oleh Sang Buddha, bahwa Dhamma itu "sangat halus, sangat sukar dimengerti, tidak bisa dipahami hanya dengan pikiran, hanya bisa dipahami oleh orang arif", dan bahwa "dunia menyenangi kenikmatan, terpukau dengan kenikmatan .. mereka tidak bisa memahami kelepasan, kepadaman, nibbana."


RIKY LIAU:

@Daniel

<<So, dengan demikian, rumusan ABrahm itu terbalik arahnya. Nanti akibatnya orang semakin mencari kebahagiaan, semakin berusaha, semakin ngotot, ada target, 'pompa-pompa', 'ciayou-ciayou', 'tekan-tekan', "tambah-tambah"....dhuarrr.....gak beda dengan agama2 lainnya : fanatik, frenetic....yg kemudian kebakaran jenggot manakala "balonnya" meletus. :D>>
= Saya rasa Anda harus mengingat kembali kisah YM Ananda,,hahaha....

upaya kaulsa..cara-cara piawai dalam mengajar,walau tentu ini bukan cara yang sembarangan yang bisa dilakukan oleh orang-orang sembarangan.. :)

dan 1 lagi,ada titik dimana seseorang menjadi jenuh, mampet, mandek, mentok, disaat itu, orang akan "berhenti" untuk berpikir, disaat itulah "kesadaran" akan datang, dan "misteri" dunia akan terkuak..

di saat saya lupa sesuatu, saya berusaha keras mengingatnya, semakin saya berusaha, saya semakin lupa, semakin saya lupa, saya semakin marah, semakin saya marah, saya semakin dongkol, dongkol dan dongkol, disaat semuanya mampet, saya melepaskanNya, let it go.. saya berhenti untuk berpikir, saya diam, saya tenang dan saya bebas.. saat itu lah saya "tahu".. :)

Regards,
Riky Liau
User avatar
Hudoyo Hupudio
 
Posts: 1284
Joined: Fri May 07, 2010 10:26 pm
Location: Jakarta, Indonesia


Return to Bunga Rampai

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest

cron